Kolestasis Sumbatan Aliran Empedu atau Kuning Sering Terjadi pada Bayi

Kolestasis Sumbatan Aliran Empedu atau Kuning Sering Terjadi pada Bayi

Kolestasis atau sumbatan aliran empedu, berasal dari kata kole dan stasis yang memiliki arti empedu dan sumbatan.  Seperti diketahui empedu mengandung bahan-bahan yang harus dikeluarkan oleh hati, seperti bilirubin dan garam empedu. Adanya sumbatan akan menyebabkan peningkatan kadar bilirubin direk dan penumpukan garam empedu. Kondisi ini umumnya ditandai dengan pemeriksaan kadar bilirubin direk meningkat menjadi lebih dari 1,5 mg/dl atau komponen bilirubin direk yang melebihi 15 % kadar bilirubin total.

kolestasisPada neonatus atau bayi baru lahir, penyebab kolestasis yang paling sering adalah peradangan hati pada bayi baru lahir yang tidak diketahui sebabnya (hepatitis neo­natal idiopatik), yaitu sebesar 35-40%. Kemudian diikuti dengan tidak terbentuk atau tertutupnya saluran empedu (atresia bilier ekstrahepatik) sebesar 25-30%. Kelainan genetik defisiensi alfa-1 antitripsin (7­-10%), sindrom kolestasis intrahepatik (5-6%), infeksi, dan lain-lain. Perbandingan atresia bilier pada anak perempuan dan laki-laki adalah 2 : 1, sementara pada hepatitis neonatal rasionya terbalik

Kolestasis atau Kuning pada Bayi Normalkah?

Menurut dr. Erlin Juwita SpA, dokter spesialis anak RS YPK Mandiri, kuning pada bayi baru lahir umumnya terjadi karena peningkatan bilirubin indirek. Keadaan ini sebagian besar dapat menghilang dengan penyinaran, oleh sebab itu tidak jarang  ditemukan ibu dengan bayi kuning, yang kemudian diberi nasehat untuk menjemur-jemur bayinya pada pagi hari guna mempercepat turunnya kadar bilirubin indirek tersebut.

Sedangkan pada sumbatan empedu, yang meningkat adalah bilirubin direk, dengan gambaran utama bayi kuning, urin yang berwarna kecoklatan dan juga sering disertai dengan tinja yang berwarna putih seperti dempul. Bayi dengan sumbatan empedu yang berat, dapat datang kembali pada usia beberapa bulan sudah dengan kerusakan berat di hati. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh atresia bilier. Bahkan kadang-kadang, bayi tiba-tiba datang sudah dengan perdarahan kepala akibat kekurangan vitamin K yang umumnya terjadi pada bayi dengan kolestasis. “Keadaan yang serius ini sebetulnya dapat dihindari, bila dokter waspada akan kemungkinan kolestasis pada pasien bayi yang kuning,” tambahnya.

Lalu  pada kondisi apa ibu perlu mencurigai bahwa kuning yang dialami bayi tidak lagi normal? Sebelum dua minggu, bayi masih boleh terus di anjurkan dijemur. Namun jika kuning tidak kunjung menghilang, menurut dr. Erlin, usia 2 minggu adalah waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan untuk membedakan apakah kuning ini disebabkan peningkatan bilirubin indirek atau bilirubin direk. Selain itu, diperlukan pemeriksaan yang lengkap dan menyeluruh oleh dokter yang menangani.

Karena seperti diketahui, jika berlanjut, kolestasis dapat menjadi sirosis bilier (kerusakan berat di hati) dan dapat terjadi gagal hati. Bila sudah terjadi gagal hati, bayi akan mengalami pembesaran limpa, penumpukan cairan di perut (asites), dan muntah darah akibat pecahnya varises di kerongkongan.

2018-10-17T14:25:51+00:00

Leave A Comment

 
WhatsApp chat