Kuning pada Bayi

Kuning pada Bayi

Kuning pada bayi berlanjut, umumnya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, diantaranya;  menanyakan bagaimana warna urin. Dikatakan oleh dr. Erlin Juwita SpA, dokter spesialis anak RS YPK Mandiri pada kasus kolestasis umumnya urin akan berwarna kuning tua atau sedikit lebih tua dari biasanya. Pada bayi mungkin saja tidak ditemukan warna kuning tua karena jumlah urin bayi yang cukup banyak sehingga mungkin ada efek dilusi bilirubin dalam urin. Selain itu ditanyakan warna feses. Pada kolestasis dapat dijumpai warna feses yang pucat seperti dempul, dapat terus menerus atau berubah-ubah.

kuning pada bayiPemeriksaan fisik kuning pada bayi difokuskan pada penampilan umum bayi, berat badan, panjang badan dan lingkar kepala. Bayi dengan kelainan metabolik atau neonatal hepatitis umumnya terlihat kecil. Sedangkan atresia bilier umumnya bayi berukuran sama seperti anak normal, sehingga seringkali mengecoh dokter dengan kondisi kuning biasa, yang bisa hilang dengan penyinaran.

Bila infeksi terjadi saat bayi lahir, maka dapat terlihat dari ukuran kepala bayi yang kecil. Pada mata, selain kuning, juga dapat terjadi katarak akibat kelainan yang disebut galaktosemia. Pemeriksaan juga dilakukan pada jantung, ukuran hari dan limpa.

Kuning pada bayi periksa laboratorium

Pemeriksaan darah pada bayi kuning dilakukan untuk memeriksa apakah ada peningkatan kadar bilirubin direk (> 1,5mg/dl). Terkadang diperlukan pemeriksaan kadar bilirubin lain, untuk melihat perbandingan kadarnya. Bila kadar bilirubin direk > 15% dari kadar bilirubin total, kemungkinan besar bayi tersbut megalami kolestasis. Bayi dengan peningkatan bilirubin direk sangat mungkin menderita kelainan hepatobilier dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Bila dari hasil pemeriksaan darah terbukti kolestasis maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya. Pemeriksaan antara lain meliputi pemeriksaan fungsi hati, profil lipid, dan fungsi ginjal. Pemeriksaan hormonal, seperti FT4 dan TSH dapat diperiksa jika menurut dokter ada indikasi. Selain darah, urin juga dapat diperiksa untuk mencari kemungkinan infeksi. Pemeriksaan USG 2 fase dan mungkin biopsi hati perlu dilakukan. Semakin cepat diketahui penyebabnya, maka penanganan dapat lebih cepat guna menyelamatkan kuning pada bayi.

Pemeriksaan Penunjang

Dokter akan meminta dilakukan pemeriksaan kadar komponen bilirubin, darah tepi lengkap, uji fungsi hati termasuk transaminase serum (SGOT, SGPT, GGT), alkali fosfatase, masa protrombin, ureum, kreatinin, elektroforesis protein, dan bilirubin urin, untuk memastikan diagnosa. Dari pemeriksaan tinja dokter juga bisa membedakan apakah kolestasis ekstrahepatik (selama beberapa hari ketiga porsi tinja tetap dempul) atau intrahepatik (hasil berfluktuasi atau kuning terus menerus).

Pemeriksaan USG dapat melihat patensi duktus bilier, keadaan kandung empedu saat puasa dan sesudah minum; serta dapat mendeteksi adanya kista duktus koledokus, batu kandung empedu, dan tumor.

Pemeriksaan penunjang awal pada kejadian kuning pada bayi dalam hal ini kolestasis intrahepatik adalah pemeriksaan serologis TORCH, petanda hepatitis B (bayi dan ibu), kadar alfa-1 antitripsin dan fenotipnya, kultur urin, urinalisis untuk reduksi substansi non-glukosa, gula darah, dan elektrolit. Bila terdapat demam atau tanda-tanda infeksi lain dilakukan biakan darah.

2018-10-02T17:01:25+00:00

Leave A Comment

 
WhatsApp chat